Selamat datang di Canal-81.net | Untuk mendapatkan tampilan terbaik dari halaman ini, disarankan untuk anda menggunakan web browser Google Chrome

Newsreel

Loading...

17 December 2009

Orang Sanger Sebagai Bangsa Kelas Dua

Hari ini saya jalan-jalan di dunia internet dan kemudian sampailah saya di halaman facebook. Saya  kemudian membaca di salah satu grup yang bernama FORUM NUSA UTARA (SANGIHE-TALAUD-SITARO) mereka membahas tentang ada anggapan dari sebagian kalangan masyarakat di Manado,  yang mengganggap kalau orang sanger itu sebagai bangsa kelas dua? auch....saya keturunan dari suku sanger, jadi  saya tentu tertarik untuk membaca tentang pembahasan  "orang sanger itu sebagai bangsa kelas dua?"



AJ. berpendapat :

Menurut saya bangsa kelas dua itu bukan anggapan, tapi 'perasaan' yang ada pada masyarakat Sangir itu sendiri yang lahir dari rasa tidak percaya diri bangsa yang sekian lama terjajah oleh Belanda.


Budaya Masyarakat Terjajah

Dalam pergaulan orang-orang tua kita dulu apabila ada yang melakukan suatu hal yang biasa dilakukan oleh orang Belanda dianggap sebagai 'melebihi kodratnya'. Misalnya, sarapan dengan roti dan selai dianggap sebagai kebiasaan Belanda, atau petinggi, yang tidak pantas atau berlebihan bagi orang biasa.

Di Manado ada kebiasaan masyarakat setempat untuk mencela orang yang melakukan suatu hal yang serius untuk kemajuan karena menganggap itu tidak diperuntukkan bagi 'kita', masyarakat biasa. Misalnya, ketika ada yang serius belajar Bahasa Inggris atau mengikuti kegiatan pengembangan diri, orang akan berkomentar, "Rupa tu butul2 jo!" Maksud mereka, kita tidak pantas melakukan itu karena itu hanya untuk 'kaum bangsawan' atau petinggi. Betapa naif dan bodohnya pemikiran seperti itu.

Bahkan ada tetangga saya yang mempertanyakan pilihan saya untuk sekolah di SMA yang jauh jaraknya dari rumah. "Kan banyak sekolah yang dekat dari rumah", katanya. Helllllllllloooooooooooooo
oooo.... Tidakkah mereka sadar bahwa memilih yang terbaik memerlukan usaha dan pengorbanan? Saya memilih yang terbaik untuk pendidikan.

Sikap 'nrimo' yang ada pada masyarakat Jawa, ternyata mengakar pada sebagian besar orang Sangir. Seolah-olah kita ini tidak pantas melakukan sesuatu hal yang lebih maju dibandingkan orang lain. Seakan-akan kita harus menerima 'kodrat' sebagai masyarakat kelas bawah yang harus tampil seadanya. Mereka sungguh tidak sadar bahwa setiap manusia dan anggota masyarakat manapun punya kesempatan yang sama untuk maju.

Dulu, di Manado dan Sulawesi Utara, persaingan untuk suatu kemajuan dianggap tabu (karena 'berlebihan'atau terlalu ambisius), tapi orang-orang justru bersaing dalam hal materi. Mereka bersaing dalam hal berpakaian, memiliki barang mewah, atau punya rumah bagus dan besar. Hal ini berujung pada masyarakat yang mengejar materi dan penghormatan semu, bukan kemajuan berpikir dan berkarya.


Bahasa Daerah

Ketika ke Manado orang Sangir berusaha untuk mengikuti budaya dan bahasa masyarakat setempat. Di satu sisi, hal itu bagus karena membantu orang Sangir berbaur dengan masyarakat Sulawesi Utara lainnya. Di sisi lain, hal itu mengancam kelestarian budaya dan bahasa daerah di masa depan. Apalagi ada rasa malu menggunakan Bahasa Sangir dalam perbincangan sehari-hari. Belum lagi adanya kebiasaan masyarakat di Kota Manado yang senang mengejek orang-orang dari kampung (baik Sangir, Minahasa, atau Gorontalo) yang menggunakan bahasa daerah sebagai 'kampungan' turut memperparah keadaan itu.

Yang memprihatinkan adalah apabila keinginan berbahasa Melayu Manado lahir bukan karena keinginan menggunakan bahasa yang sama, tapi lebih karena keinginan terlihat 'gaul'. Bahasa Daerah dianggap kampungan, dan Melayu Manado dianggap sebagai bahasa gaul yang menaikkan derajat penuturnya seolah-olah menjadi bagian dari masyarakat yang maju. Hal itu tidak hanya terjadi di Manado. Itu terjadi juga di pelosok daerah.

Padahal, masyarakat Sangir dan Sulawesi Utara pada umumnya, mempunyai kelebihan dalam hal berbahasa dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain di Indonesia. Kebiasaan kita, khususnya yang terlibat dalam kegiatan gereja, yang menggunakan Bahasa Indonesia dalam kebaktian dan kegiatan sosial lainnya membuat kita fasih berbahasa Indonesia. Dibandingkan dengan masyarakat yang dekat dengan ibukota negara, orang Sangir lebih hebat dalam berbahasa Indonesia.

Di banyak sekolah di Jawa, guru bahasa Indonesia sekalipun tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam bertutur. Bahasa setempat digunakan dan dianggap sebagai Bahasa Indonesia. Ada teman saya yang menceritakan guru Bahasa Indonesia di sekolahnya di suatu kota di Jawa Barat MENULISKAN kata 'penginEpan' di papan tulis. Hal ini tidak mungkin terjadi di Manado atau kota-kota lain di Kepulauan Sangir.

Saya tidak tahu kondisi terakhir masyarakat Sulawesi Utara, baik di Kepulauan Sangir ataupun di Kota Manado, saat ini karena saya hanya satu tahun sekali berkunjung ke kampung halaman. Saya rasa saat ini semakin banyak orang Sangir yang tampil sebagai pemimpin atau menjadi bagian dari pergaulan dunia, sehingga 'anggapan' kelas bawah itu tak lagi ada.

Kalaupun ada yang mengasosiasikan orang Sangir dengan status sosial rendah, itu hanyalah bukti kebodohan orang-orang yang beranggapan demikian. Misalnya, panggilan 'momo' yang di Manado diasosiasikan dengan pembantu rumah tangga adalah hal yang sama dengan kebiasaan orang Jakarta yang mengasosiasikan 'mbak' dengan pembantu rumah tangga. Padahal kedua kata itu merupakan sapaan yang sopan untuk wanita di daerah masing-masing.

Kita tidak perlu bekecil hati karena kebodohan orang-orang yang beranggapan demikian karena penutur bahasa yang tepat dan lawan bicara yang berpendidikan (tidak harus sekolah tinggi) tahu makna sapaan yang dipilih.

Sebutan 'mas-mas' di Manado dan 'mas-mas' di Jakarta pun tidak mencerminkan derajat sebenarnya dari panggilan 'mas' pada masyarakat Jawa. Di Manado sebutan itu ditujukan pada tukang es, tukang bakso, atau penjual lainnya yang kebetulan berasal dari suku Jawa. Sementara di Jakarta sebutan itu ditujukan pada laki-laki dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur atau orang-orang yang bertampang Jawa asli atau berpenampilan seperti orang dari kampung. Padahal, bagi masyarakat Jawa, hanya kepada laki-laki yang dihormati dan disayangi panggilan 'mas' ditujukan.

Jadi, anggapan bahwa masyarakat Sangir adalah bangsa kelas dua itu hanya dimiliki oleh orang bodoh. Kita yang tidak bodoh tidak perlu risau dengan itu. Tunjukkan kepada dunia bahwa kita sanggup bersaing dan menjadi yang terbaik.
____________________

wah....ini pendapat yang sangat membangun.... terima kasih untuk AJ.Bagaimana dengan anda ada pendapat lain ?? disilahkan untuk berkomentar.

(-cp@17122009)

0 Komentar Pembaca:

Post a Comment